Langkah-langkah Starbucks menjadikan sebuah Tren Gaya Hidup

Ketika Anda Jatuh maka Bangkitlah, dan ketika kembali Jatuh tetaplah Bangkit.  Orang sukses adalah Orang yang selalu Bangkit dari Jatuhnya, dan tidak pernah mengenal kata menyerah dalam meraih Impian dan Cita-cita. Motivasi adalah Diri Sendiri, dan menjadi senjata utama Anda dalam mencapai Harapan dan Masa Depan yang Lebih Baik.

Siapa yang tidak kenal dengan Starbucks, yang sudah menjamur diseluruh pelosok kota-kota besar, dan telah menjadi Gaya Hidup tersendiri bagi kebanyakan anak muda dan profesional.  Menjadi tempat kongkow dan nongkrong setiap saat, tempat bercurhat ria, tempat deal-deal bisnis dan masih banyak lagi.  Fenomena Starbucks menjadi Tren bersama Resto-resto Cepat Saji lainnya.

Howard Schults merevolusi cara orang mengkonsumsi kopi dan menjadikannya Budaya dan Gaya Hidup.  Sejak dibeli tahun 1987, sampai saat ini Starbucks telah menghiasi 58 negara dengan hampir 20ribu outlet.  Starbucks mengenalkan istilah “cappuccino” pertama kali.  Bermula dari perjalanan bisnisnya ke Italia, Howard yang masih menjabat sebagai Karyawan Starbucks pada tahun 1980-an tersebut, melihat Gaya orang-orang menikmati Kopi sambil Ngobrol di café-café disetiap sudut jalan.  Tempat tersebut Nyaman sebagai Public Area.  Pada saat itu Starbucks masih berupa Toko Penggilingan Kopi tanpa melayani Pelanggan yang ingin minum di tempat.

STARBUCKSPada akhirnya Peluang tersebut tidak ditanggapi oleh atasannya, sehingga Howard memilih keluar dan mendirikan Bisnis Resto sendiri dengan nama Il Giornale, dan berkembang pesat dalam penjualannya.  Dua tahun kemudian dengan alasan ingin berbisnis dalam bidang lain, Jerry Baldwin pemilik sekaligus atasan Howard dahulu, menjual Starbucks seharga hampir 4juta dollar.  Ditangan Howard lah Starbucks akhirnya cepat berekspansi di Amerika tanpa Iklan Nasional.  Nilai penjualan pada awal 1990-an melesat dari 100Juta menjadi 465Juta untuk kurun waktu 5 tahun.

Pernah mengalami penurunan pada tahun 2007 seiring Krisis Ekonomi dan persaingan dari McD serta Dunkin’ Donuts yang meramaikan Bisnis Ritel Kopi, akhirnya hampir 900 outlet ditutup.  Namun tahun 2008 setelah kembali mengambil alih lagi Operasional Perusahaan sebagai CEO, Howard berhasil mengembalikan Starbucks pada Jalur yang Benar.

Analisis yang menyeluruh telah dilakukan Howard diantaranya adalah :

1.  Kesalahan Mendasar tidak akan memberikan Keberhasilan dalam Jangka Panjang, walau mungkin sesaat tidak menjadi sebuah Issu dan Problematika Bisnis.  Dasar dan Fundamental dalam sebuah Bisnis harus menjadi sebuah Kunci Unik dalam Penjualan dan Pelayanan.

2.  Menutup Bisnis yang merugi tanpa takut akan kehilangan Pasar, karena Sumber Daya Manusia yang berkualitas jauh lebih Utama dari pada jumlah outlet penjualan.  Akhirnya Howard melakukan pelatihan ulang kepada pelayan resto dalam hal Teknik dan Seni Membuat Kopi Espresso.

3.  Kerjasama dengan Pengusaha Lokal sebagai bagian dari Partnership dalam bagian Ekspansi Usaha yang Strategis.

Setelah setahun dari comeback nya Howard berhasil meningkatkan Nilai Jual Saham Starbucks lebih tinggi 60%.  Perusahaan ini terhindari dari kerusakan lebih lanjut dan terus membuka kedai baru di seluruh dunia.  Tidak ada kata menyerh bagi Howard dalam memperjuangkan Visi dan Misi Usaha nya.  Terlahir sebagai putra seorang sopir Truk pada tahun 1953, Howard masuk kembali dalam daftar miliarder versi Forbes tahun 2011.  Dibesarkan dalam masyarakat Menengah di Brooklyn, Howard cukup cemerlang dalam olah raga dan mendapatkan beasiswa di Michigan University, serta menjadi satu-satunya anggota keluarga yang mencicipi dunia kampus.  Lulus dari Jurusan Komunikasi tahun 1975, Howard menunjukkan bahwa Kopi dapat menjadi Passion dan Gaya Hidup.  Tidak pernah Menyerah adalah bagian dari Kesuksesan Howard dan Anda dapat menjadi Bagain Sukses lainnya ketika tidak mengenal kata Menyerah.

Leave a Reply