Tips Mudah Menghindari Pemecatan dalam Pekerjaan Anda

siap dipecatSiapkah Anda dipecat? Mungkin pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang jarang Anda dengar atau Anda harapkan.  Karena sekalinya mendapatkan sebuah pekerjaan maka secara natural setiap orang akan berusaha untuk memberikan yang terbaik.  Namun tahukah Anda bahwa berhenti kerja tidak hanya karena keinginan pribadi, sebab sebuah tawaran yang lebih menarik atau karena sudah waktunya pensiun, namun juga karena disebabkan kondisi perusahaan yang tidak kondusif atau performa individu Anda yang tidak kunjung membaik.

Posisi Anda tidak pernah aman dalam pekerjaan apapun, dan untuk itu yang diperlukan adalah sejauh mana Anda siap menghadapi kemungkinan terburuk, yakni Anda dipecat.  Beberapa kondisi menjelaskan bahwa mempertahankan pekerjaan ternyata jauh lebih sulit daripada memperolehnya.  Bahkan karena munculnya sebuah pop-up menu situs “xxx” di komputer, Anda dapat kehilangan pekerjaan.  Berbagai kesalahan dapat menyebabkan posisi Anda diambil oleh orang lain dan jangan kaget jika Anda harus kembali menyebarkan surat lamaran.  Berikut dikutip dari jobstreet.com ada beberapa hal yang perlu Anca cermati dalam melakoni pekerjaan.

1.  Bertanggung jawab akan Waktu.
Reputasi sebagai “tukang telat” adalah penilaian buruk dari atasan Anda, dan bahkan menjadi nilai sosial yang kurang baik pula bagi organisasi.  Ditambah lagi menggunakan waktu makan siang melebihi batas yang ditentukan atau sering tidak masuk kantor pada saat deadline pekerjaan harus diselesaikan atau alasan lainnya. Atasan tentu akan segera mencari pengganti atau kandidat lain untuk menempati posisi Anda.  Sadar atau tidak, waktu sangat menjadi acuan akan performa seseorang dalam bekerja.

2.  Merengek dan Mengeluh.
Tidak salah jika Anda mengeluhkan pekerjaan yang menumpuk, karena sangat manusiawi tentunya.  Namun jika menghabiskan jam kerja hanya untuk mengeluh tentang pekerjaan, membicarakan atasan yang tidak becus, dan kebijakan perusahaan yang menyulitkan, maka ini adalah awal dari kesiapan Anda untuk dipecat.  Tindakan tersebut akan membuat atasan segera mengakhiri penderitaan Anda dengan mengambil kembali pekerjaan yang sangat Anda “benci” tersebut.

3.  Tidak (mau) Berkembang.
Rutinitas adalah menu sehari-hari yang Anda lakukan, dan ketika aktivitas harian selalu menghabiskan waktu Anda, secara otomatis kreativitas atau inovasi tidak pernah terjadi dalam pekerjaan Anda.  Anda tidak pernah berkembang dan tidak menunjukkan keinginan untuk belajar hal baru.  Satu waktu Anda dapat masuk dalam daftar karyawan yang dirasionalisasi, terkait kontribusi yang minim atau tidak bermanfaat bagi perusahaan dalam jangka panjang.

4.  Masalah Pribadi yang Utama.
Banyak sudah perusahaan yang menerapkan worklife balance bagi karyawannya, seperti waktu kerja yang fleksibel, tempat kerja yang nyaman atau bahkan Anda dapat bekerja dari rumah.  Banyaknya fasilitas yang diberikan perusahaan tiada lain untuk mempertahankan dan mengembangkan sumber daya manusia yang handal.  Akan tetapi jika Anda cenderung egois memanfaatkan kondisi tersebut hanya demi kepentingan pribadi, maka lambat laun, tindakan tersebut akan terlacak dan menggiring Anda menjadi salah satu tersangka yang masuk dalam kategori karyawan yang tidak dibutuhkan.  Bijaklah dalam penggunaan telepon, email, internet dan lainnya.

5.  Mengabaikan Etika Kerja.
Etika berlaku global dimanapun Anda berada, terlebih pada lembaga formal seperti sebuah organisasi bisnis.  Etika kerja adalah alat ukur sejauh mana Anda bersikap dan berperilaku layaknya seorang profesional.  Perhatikan barang orang lain, privasi atau otoritas individu, dimana hal tersebut dapat menjadi pemicu ketidaksukaan orang lain kepada Anda, sehingga berdampak pada posisi pekerjaan.  Ingatkan diri Anda bahwa keberhasilan seseorang ditentukan oleh 85% perilaku atau sikapnya, dan selebihnya karena ketrampilan dan pengetahuan.

6.  Antipati terhadap Atasan.
Seburuk apapun Atasan Anda dalam pekerjaannya, secara struktural mereka tetap lebih tinggi dari Anda, sehingga dapat membuat posisi Anda terancam hanya karena sebuah instruksi yang Anda tolak.  Hal ini mungkin tidak berlaku jika Anda mempunyai hubungan lebih baik kepada Atasan dari Atasan Anda.  Perilaku Atasan yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan Anda, atau bahkan tidak menunjukkan seseorang yang cakap akan pekerjaan, tidak perlu dikonfrontasi dengan cara terbuka.  Lakukan dengan pendekatan personal dan empat mata, dijamin Anda akan memperoleh kredit poin positif dibandingkan sikap antipati Anda.

Leave a Reply