Cara Menggunakan Scatter Diagram untuk Menentukan Faktor Korelasi

Definisi Scatter Diagram (Diagram Pencar)

Scatter Diagram atau Diagram Pencar adalah diagram yang menunjukkan tingkat hubungan (korelasi) di antara 2 faktor.  Di bawah ini beberapa contoh yang dapat menjadi obyek pengujian tingkat keeratan

hubungan antara dua faktor, dengan menggunakan Scatter Diagram, yaitu :

  • a. Hubungan antara keluhan pelanggan dengan lamanya transaksi.
  • b. Hubungan antara frekuensi pameran dengan peningkatan volume penjualan.
  • c. Hubungan antara jumlah BPKB yang tidak diambil dengan akumulasi denda.
  • d. Hubungan antara jumlah pertemuan QCC dengan banyak tema.
  • e. Hubungan antara frekuensi keterlambatan pengiriman barang dengan jumlah keluhan pelanggan. 

Dengan menggambar Scatter Diagram, maka akan dapat diketahui :

  • a) Apakah ada hubungan di antara kedua faktor ?
  • b) Bagaimana Trend atau Kecenderungan hubungan tersebut ? 

Di dalam pengertian Mutu (TQM), hubungan di antara kedua faktor tersebut bisa diartikan :

  • I. Hubungan antara Sebab dan Akibat.
  • II. Hubungan antara Sebab dan Sebab lainnya.
  • III. Hubungan antara Akibat dan Akibat lainnya. 

Hal terpenting dalam pembuatan atau penggunaan Scatter Diagram adalah :

Bagaimana memilih ukuran yang tepat, agar hubungan yang ter-gambarkan tidak menghasilkan hubungan yang bias ? Meskipun demikian, dalam kenyataannya kita tidak pernah dapat benar-benar mendapatkan penjelasan : Mengapa terjadi hubungan tersebut ?”, karena analisa pada Scatter Diagram hanya terbatas pada menunjukkan adanya hubungan dan kekuatan dari hubungan tersebut.

Membaca Scatter Diagram

Pada umumnya data dalam gambar diagram akan berpencar dan membentuk pola tertentu, dan pola pencaran data tersebutlah, dapat dilakukan analisa kecenderungan hubungan kedua faktor yang diuji, misalnya : Pola pencaran data dari bagian bawah kiri naik ke arah kanan seolah membentuk sudut. Dan bila ditarik suatu garis imajiner (bayangan), maka kita bisa membuat garis linear sebagai wakil dari kelompok atau pencaran data tersebut. Garis ini dalam istilah statistik dinamakan sebagai Garis Regresi.

Dalam Scatter Diagram dikenal 2 macam hubungan, yaitu :

  • i. Ada Korelasi yang ditandai dengan korelasi Kuat dan Lemah
  • ii. Tidak Ada Korelasi 

Bila ADA korelasi, hubungan ini masih dibagi dengan Korelasi yang Positif dan Korelasi yang Negatif. Korelasi Positif diartikan : bila faktor “A” muncul semakin besar, maka faktor “B” akan muncul semakin besar pula. Sedangkan Korelasi Negatif diartikan : bila faktor “A” muncul semakin besar, faktor “B” justru akan muncul semakin kecil. Kedua korelasi tersebut (positif dan negatif) dapat ditandai dengan kuat dan lemah, sehingga dalam Scatter Diagram sebenarnya dapat ditandai 5 jenis korelasi, yaitu :

  • 1. Korelasi Positif Kuat
  • 2. Korelasi Positif Lemah
  • 3. Korelasi Negatif Kuat
  • 4. Korelasi Negatif Lemah
  • 5. Tanpa Korelasi 

Cara Membuat Scatter Diagram

  • 1. Tentukan faktor-faktor yang akan diamati, misalnya “A” dan “B” (faktor sebab vs akibat atau akibat 1 vs akibat 2 atau sebab 1 vs sebab 2).  Pedoman : salah satu variabel / faktor ditempatkan sebagai Variabel Independen (PENYEBAB), yang di dalam diagram ditempatkan pada Sumbu X, variabel lainnya sebagai Variabel Dependen (AKIBAT), yang ditempatkan pada Sumbu Y.
  • 2. Tetapkan waktu pengamatan dan kumpulkan sejumlah data (umumnya > 30).
  • 3. Gambarkanlah Sumbu “X” dan Sumbu “Y” dalam kertas diagram atau millimeterpaper
  • 4. Tetapkanlah bidang bujur sangkar untuk menempatkan seluruh data yang dikumpulkan dengan cara :
    • ? Tentukan Nilai Tertinggi dan Nilai Terendah masing-masing data.
    • ? Hitunglah bedanya, dan tetapkan skalanya, baik sumbu X, maupun sumbu Y.
    • ? Masukkan data, dimulai pada sumbu X (penyebab) dan pada sumbu Y (akibat). 

RUMUS : Cara mendapatkan Koefisien Korelasi ( r )

“GAMBAR RUMUS SCATTER”

r= Koefisien Korelasi

n= Banyaknya Pasangan Data X dan Y

?x=Jumlah Nilai Variabel X

?y=Jumlah Nilai Variabel Y

?x2=Jumlah Kuadrat Nilai Variabel X

?y2=Jumlah Kuadrat Nilai Variabel X

Range                   = -1 ? r ? +1

r mendekati + 1                = Variabel X dan Y memiliki korelasi Positif Kuat

r mendekati – 1 = Variabel X dan Y memiliki korelasi Negatif Kuat

r mendekati 0    = Variabel X dan Y memiliki korelasi Sangat Lemah

Dalam penentuan penyebab Dominan, maka nilai Koefisien Korelasi yang menentukan penyebab dominan adalah : r ? 0,501

contoh scatter diagram

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah Pencapaian SLS berhubungan langsung dengan

peningkatan pencapaian penjualan di cabang XYZ selama tahun 2005. Oleh karena itu

SLS perlu selalu dijaga dan ditingkatkan performancenya karena akan berakibat positif

pada penjualan.

ikhtisar.com

Comments
  1. Sigit Mulyantoro | Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>