Resistensi, Gejolak Perubahan dan Tumbuh Kembang Organisasi

resistensi sebagai gejolak perubahanDalam sebuah organisasi terkecil sekalipun, seperti rumah tangga terdiri dari sepasang suami dan istri, akan tetap terjadi perbedaan pendapat, pandangan atau tujuan. Setiap perbedaan ini dapat berpotensi menjadi resistensi atau penolakan. Resistensi adalah kondisi yang akan terjadi dimanapun, dan akan sangat nyata bentuknya jika terjadi sebuah organisasi besar atau perusahaan. Resistensi adalah bagian dari pertumbuhan dan perkembangan sebuah organisasi agar mampu mengantisipasi perubahan pasar, kebutuhan pelanggan dan konsumen, perbedaan budaya ataupun peningkatan ekonomi dan sosial budaya masyarakat.

Jika Anda mencoba menerapkan perubahan, pasti akan terjadi hambatan yang tak terelakkan, jadi bagaimana Anda dapat terampil menghadapinya? Jika Anda memiliki strategi untuk menghadapi resistensi tersebut, maka sesungguhnya Anda mungkin telah kehilangan pentingnya nilai perbedaan. Resistensi bukanlah satu hal, namun muncul karena alasan yang sangat berbeda, yang masing-masing membutuhkan pendekatan yang berbeda. Dalam beberapa kasus resistensi mungkin benar-benar mengajarkan Anda akan sesuatu yang sangat berharga. Berikut ini adalah empat alasan utama resistensi muncul, dan cara yang berbeda menghadapinya, sebagaimana dikutip dari forbes.com

1. Rasional

Resistensi adalah hal wajar. Perlu diingat bahwa orang wajar dapat mengambil pandangan yang berbeda mengenai masalah yang sama. Mungkin dalam beberapa kasus yang ada, Anda percaya bahwa prioritasnya adalah untuk meningkatkan efisiensi operasional, sementara orang yang lain mungkin percaya bahwa beberapa perubahan yang diperlukan untuk strategi. Dan Lebih penting lagi adalah mereka mungkin benar atau Anda mungkin benar, tetapi mereka dapat memberitahukan sesuatu yang berguna tentang cara terbaik untuk melakukan yang Anda inginkan. Adanya resistensi ini akan memberikan pembelajaran kepada Anda dari sudut pandang orang lain, meskipun Anda tahu cara penyelesaiannya.

2.  Ketidaknyamanan dengan Ketidakbiasaan

Strategi baru pastinya membutuhkan keterlibatan dengan pasar baru, teknologi baru atau produk baru. Atau, bahkan lebih sulit lagi, yakni meninggalkan pasar, teknologi atau produk yang sudah ada. Resistensi dalam hal ini berbeda dengan Rasional, dimana perselisihan sering muncul meski banyak orang akan menyembunyikan dirinya. Sebuah kasus contohnya adalah dimana Nokia berupaya untuk menyangkal kehadiran smartphone akan menjadi produk yang signifikan. Pola pikir rasional mengenai kondisi ini tidak bisa dipaksakan, dimana jika semakin keras memaksakan diri akan semakin keras pula pukulan baliknya. Yang lebih masuk akal adalah, bagaimana Anda dan perusahaan dapat mengurangi ancaman yang dirasakan dan bukan berbicara tentang perubahan radikal.

Seorang pemimpin perusahaan akan lebih bijaksana manakala berkata, “berapa kebutuhan bisnis untuk tetap tumbuh dan berkembang” dibandingkan dengan memaksakan pasar dan produk yang sudah ditinggalkan konsumen. Kata kunci dalam menghadapi Resistensi adalah keberlanjutan (sustainability) bukan hanya pertumbuhan dramatis.

3.  Ketidakpastian tentang kesuksesan

Strategi ini meminta orang untuk melakukan hal-hal baru, dan mereka tidak yakin bahwa mereka bisa. Mereka mungkin perlu mengembangkan pasar baru, setelah bertahun-tahun menghabiskan waktu dengan pertanian yang sudah ada. Atau mereka mungkin perlu untuk mengembangkan metode baru. Atau mereka mungkin hanya tidak percaya bahwa perubahan yang diharapkan dapat dilakukan dalam waktu tertentu. Pahamilah bahwa perspektif Anda berbeda dari mereka.

Harga yang dibayar jika perubahan tidak berhasil dilakukan, mungkin bagi Anda adalah ongkos pembelajaran, namun bagi kebanyakan mereka merupakan sebuah kesia-siaan besar yang sulit dihadapi. Tanyakan pada diri Anda sendiri jika menjalani perubahan apakah akan terasa “Tidak Nyaman”, dan jika memang demikian kondisinya, alangkah lebih baik melihat kembali konsekuensi dari kegagalan dan menyesuaikannya kepada orang-orang Anda.

4.  Resistensi Politik

Perubahan bisa baik untuk organisasi secara keseluruhan, tapi buruk bagi beberapa individu. Jadi orang-orang akan menolak. Resistensi politik benar-benar merupakan bagian dari resistensi yang rasional. Mengharapkan orang tidak ber “politik” berarti mengharapkan mereka dengan senang hati akan mengorbankan kepentingan mereka sendiri untuk kepentingan kelompok. Namun berapa banyak organisasi saat ini yang mempunyai kesetiaan karyawan dibandingkan sikap realistis? Atau berapa banyak penawaran komitmen jangka panjang untuk karyawan, dan masuk akal bagi mereka untuk berkorban saat ini dan berharap akan imbalan nanti? Organisasi Militer mungkin masih bisa melakukannnya, dan tidak pada sebagian besar organisasi komersial. Organisasi Komersial kini diselenggarakan pada prinsip “setiap orang untuk dirinya sendiri”, yang membuat perilaku politik benar-benar harus rasional. “Jika saya tidak melihat untuk diri sendiri, siapa lagi yang akan melakukannya?” inilah sudut pandang mereka, dan apakah ada sesuatu yang dapat Anda lakukan untuk membuat pengorbanan mereka menjadi lebih menarik?

Leave a Reply