Pribadi Inkompeten cenderung tidak Kreatif

Pribadi Inkompeten cenderung tidak Kreatif

Pribadi Inkompeten cenderung tidak Kreatif

Dalam sebuah studi di Universitas Cornell ditemukan bahwa orang-orang yang tidak kompeten cenderung cukup dramatis melebih-lebihkan kemampuan mereka, sedangkan orang-orang yang benar-benar kompeten pada bidangnya cenderung merendahkan kinerja mereka.  Penelitian ini menegaskan bahwa Pribadi inkompeten cenderung tidak kreatif, sehingga mereka akan menutupinya dengan pernyataan-pernyataan bombastik.  Menyikapi hal ini Anda sebagai pimpinan perusahaan perlu cermat melihat karyawan mana yang benar-benar kompeten dan mana yang hanya sekedar omdo.

Hasil penelitian juga menghasilkan arti lain yakni :

Jika Anda tidak kompeten, Anda lebih mungkin tidak kompeten atau tidak berani menilai sendiri (atau menilai orang lain sebagai perbandingan kepada diri sendiri).  Seseorang yang inkompeten tidak hanya menghasilkan sebuah kesimpulan yang salah dan namun juga membuat pilihan yang keliru, tetapi ketidakmampuan mereka juga menghilangkan kemampuan untuk sadar akan kondisinya.

Sebaliknya jika Anda kompeten, Anda cenderung menganggap orang lain tampil di tingkat yang sama dengan Anda (karena Anda tidak bisa membayangkan mengapa mereka tidak akan perform sementara Anda sering blak-blakan tentang cara bekerja). Selain itu, kompetensi juga sangat menyadari kekurangan Anda, yang akhirnya akan membuat sulit melihat performa pekerjaan dan kebiasaan kerja Anda yang sebenarnya cukup fantastis.

Penelitian ini memiliki implikasi yang menarik lainnya bagi seorang manajer

Manajer dalam menerjemahkan gagasan atau delegasi tugas haruslah eksplisit, terlebih kepada karyawan yang tidak memenuhi harapan Anda. Penegasan yang jelas untuk menghindari terjadinya keparahan menghadapi masalah dan menerima konsekuensi yang mungkin terjadi.

Manajer jangan pernah berasumsi bahwa karyawan mereka tahu kapan mereka under perform dan terancam diberhentikan, atau mereka paham akan semua peringatan dan pembicaraan yang terjadi serius diarahkan pada mereka, dan membuat Anda menjelaskannya dengan eksplisit.

Akhirnya kemudian sang karyawan akan terkejut dan shock ketika mereka dipecat. Andapun para manajer bingung dengan kejutan ini, karena merasa bahwa karyawan harusnya sudah melihat akan terjadi.

Kenyataannya adalah karyawan berkinerja rendah atau inkompeten tidak mengerti bahwa feedback negatif yang diterimanya adalah masalah besar, terutama jika orang tersebut pernah mendapatkan umpan balik negatif dari atasan namun tidak juga dipecat dan dengan demikian mereka tidak membahas pembicaraan serius baru-baru ini sebagai tanda bahaya. Jadi sebagai seorang manajer Anda harus berkomitmen untuk mengucapkan kata-kata, “Saya harus memperingatkan Anda bahwa pekerjaan Anda dalam bahaya jika Anda tidak membaik.” Jangan menganggap karyawan tahu apa yang Anda inginkan. Jika memang Anda khawatir dengan inkompetensi seseorang maka dapat dipastikan bahwa mereka memang tidak mempunyai pemahaman.

Selain itu, Anda harus berpikir tentang sisi lainnya.

Apakah karyawan terbaik Anda tahu seberapa banyak Anda menghargai mereka? Seringkali, karyawan hebat resah dan khawatir tentang apakah manajer mereka senang dengan pekerjaan mereka, karena manajer mereka tidak secara eksplisit mengatakan kepada mereka seberapa baik mereka melakukan. Ada manfaat besar jika Anda memastikan high performer tahu bahwa mereka diperhatikan kinerjanya, yakni kecenderungan menaikkan moral mereka, membuat mereka lebih berinvestasi dalam tim Anda, membuat mereka umumnya lebih bahagia di tempat kerja, dan menghasilkan lebih dari perilaku yang Anda ingin lihat.

Leave a Reply