Pentingnya Sikap Saling Mengerti dalam Hubungan Kerja Profesional

Pentingnya Sikap Saling Mengerti dalam Hubungan Kerja Profesional

Pentingnya Sikap Saling Mengerti dalam Hubungan Kerja Profesional

Stephen R Covey dengan buku fenomenalnya 7 Habits of Effectively People menjelaskan bahwa Perilaku Manusia Efektif salah satunya adalah dengan Membangun Sikap Mengerti Lawan Bicara Terlebih Dahulu sebelum pada Akhirnya Anda akan dimengerti dan dipahami.  Hubungan Interpersonal merupakan hal yang penting di dalam dunia kerja termasuk di dalamnya bagaimana berhubungan tidak hanya dengan bawahan namun juga dengan atasan.  Kemampuan dan Ketrampilan Komunikasi mutlak menjadi salah satu aral Anda membangun Hubungan Kerja yang Saling Mengerti.  Untuk dapat berhubungan dengan baik Anda perlu mengetahui sifat-sifat atasan atau bawahan. Salah satu pengamatan yang pernah dilakukan mengatakan bahwa ada 2 pendekatan hubungan bawahan dan atasan.

Pertama yang menyatakan bahwa pada prinsipnya bawahan cenderung ingin berprestasi sehingga atasan tinggal mencari tahu bagaimana memotivasi mereka.  Atasan perlu Mendalami Perilaku dan Kemampuan Bawahannya sehingga akan memberikan Kontribusi Maksimal bagi Pengembangan Diri maupun Prestasi Tim.

Sedangkan pendapat yang Kedua menyatakan bahwa bawahan cenderung malas sehingga perlu selalu diawasi.  Bawahan adalah Tipical Karyawan yang hanya ingin mendapatkan Kondisi Biasa saja dari Kemampuan dan Potensi yang dimilikinya.  Karyawan yang cenderung sekedar Gugur Kewajiban dalam Tugas dan Tanggung Jawab.  Anda sebagai Atasan perlu Mengerti Kendala Pribadi dari Individu tersebut sebelum dapat Memberikan Motivasi dan Inspirasi bagi mereka untuk Berkarya Optimal.  Sifat dan Gaya Kepemimpinan Anda sebagai Atasan dipengaruhi juga oleh hal-hal tersebut. Berikut beberapa contoh sifat Atasan-atasan sebagai bahan referensi bagi Pengembangan Karir Anda.

1.  Terima Bersih dan Cuci Tangan. Tipe atasan ini seperti ini maunya terima bersih saja. Segala urusan ditangani oleh anak buah. Enaknya punya boss seperti ini, kita dapat berkreasi dan berinovasi. Seringkali kita diberi empowerment yang besar. Tidak enaknya, kalau kerjaan atau proyek gagal, kesalahan akan ditimpakan ke kita sebagai bawahan.

2.  Otoriter dan control oriented. Atasan seperti ini cenderung memaksakan kehendak dan sebagai bawahan sulit sekali berinovasi. Segalanya diatur dan pendapat atau idenya sulit disanggah. Boss seperti ini cenderung mempunyai kebiasaan untuk mengontrol terus. Bawahan yang patuh dan menurut yang cocok dengan atasan seperti ini.

3.  Tidak Tegas dan Sulit mengambil Keputusan. Atasan seperti ini banyak pertimbangan sehingga seringkali tidak dapat mengambil keputusan. Bawahan seringkali dibuat bingung dan menggantung.  Atasan dengan Gaya seperti ini akan menyulitkan seluruh anggota Tim dalam Bertindak, karena ragu dalam mengambil Kebijakan dan Keputusan.  Peluang yang sudah didepan mata dapat hilang begitu saja.

4.  Demokratis. Atasan seperti ini lebih mengutamakan Kebersamaan Tim. Mereka sering berbagi informasi dan keputusan diambil secara kolektif. Partisipasi team dengan atasan seperti ini sangat diharapkan.  Hasil Baik atau Buruk akan menjadi Tanggung Jawab seluruh Tim, sehingga akan terbentuk Chemistry dalam sebuah Proyek Bersama.

5.  Empowerment. Atasan seperti dapat memberikan kewenangan kepada bawahan dan ikut memikirkan bersama bawahannya. Mereka merasa bawahan dapat mengerjakan pekerjaan dengan baik asalkan diberi kewenangan dengan dibuatkan sistem yang baik lebih terdahulu. Atasan seperti ini lain dengan tipe 1, karena mereka bertanggung jawab dan sangat menguasai bidangnya.

Tentu saja sebagai bawahan kita tidak dapat memilih tipe atasan dan yang perlu dilakukan oleh kita adalah bagaimana kita beradaptasi dengan atasan atau kalau tidak dapat beradaptasi pilihan adalah mencari atasan baru.

ikhtisar.com

Leave a Reply