Mengelola Hubungan Profesional dengan Atasan

Hubungan dengan atasan tidak disangkal sangat mempengaruhi Kinerja dan Karier Anda. Untuk membina hubungan dengan atasan hal pertama yang Anda perlu lakukan adalah Mengerti Kebiasaan dan Pribadi Atasan, mengambil istilah Steven Covey yang dikenal dengan First to Undertand than to be Understood. Bayangkan saja kalau ide dan proposal Anda sering ditolak yang mungkin hanya disebabkan oleh karena Anda tidak mengenal Gaya, Kebiasaan dan Pribadi Atasan.

Tes Kepribadian yang banyak digunakan perusahaan adalah DISC Profiling atau seringkali juga menggunakan Color Code dari Hartman. Anda perlu memahami dan mengerti akan Profil Pribadi terlebih dahulu dalam Pembinaan Hubungan terhadap Atasan.  Jika tidak ada kesempatan melakukan tes tentu saja Anda dapat menganalisa kebiasaan-kebiasan keseharian Pribadi dan Atasan dengan memperhatikan perilaku sehari-hari.

1.  Atasan Perfeksionis (Conscientiousness).
Atasan yang sangat Detil, Analitis, Teliti dan Senang dengan Angka atau Fakta.  Meja Kerja Rapid an Tertata Apik.  Anda perlu mempersiapkan diri dengan Data Pendukung Lengkap pada saat akan mengajukan sebuah Saran dan Ide Program sehingga lebih mempermudah dalam Pengambilan Keputusan.  Tipe Atasan seperti ini memiliki Tingkat Disiplin Tinggi, Banyak Pertimbangan dan Cenderung Sulit memberikan Keputusan.  Anda perlu sangat Sigap dalam menepati Janji Tatap Muka sehingga tidak terlambat.

2.  Atasan Ramah (Influence).
Sangat menyenangkan ketika Anda berada dalam Lingkup Organisasi dengan Pemimpin yang Raah, Komunikatif dan Persuasif.  Pembawaannya fun dan meja kerjanya tidak rapi atau sedikit berantakan. Seringkali Impulif dan kurang disiplin tetapi Kharismatik. Dapat dibayangkan kalau saja Anda mempunyai tipe dan pribadi seperti diatas yang sangat Detil dan tidak menyesuikan dengan tipe Atasan yang ramah seperti ini, maka proposal atau Program Kerja yang telah disiapkan secara detail, rapi dengan penuh angka dan analisa menjadi tidak efektif lagi. Karena Atasan seperti ini tidak terlalu suka angka dan tidak detail. Atasan seperti ini senang dengan laporan yang bersifat Verbal dan disampaikan dengan cara tidak terlalu formal. Jangan lupa juga membuka percakapan yang bersifat pribadi karena tipe bos seperti ini seringkali sharing perasaan pribadinya. Mengadakan meeting saat lunch atau di cafe dapat membantu memperlancar diskusi dengan Atasan seperti ini. Kadang proposal Anda tidak perlu dibaca lagi dan langsung disetujui.

3.  Atasan Dominan (Dominance).
Tipe Atasan ketiga adalah yang sangat Dominan, Tegas dan Senang menunjukkan kekuasaannya. Atasan seperti ini cenderung to the point dan tidak sabaran. Dalam mengajukan Ide Program tentu Anda harus menyajikan data faktual dan juga keuntungannya. Rasanya percuma memuji Atasan mengenai penampilannya karena bagi mereka kinerja pekerjaannya yang membuat bangga. Untuk menghadapi Atasan seperti ini sebaiknya tetap Fokus pada Tujuan dan Tunjukkan hasil yang Positif.

4.  Atasan Damai (Steadiness).
Tipe Atasan yang senang dengan kedamaiaan alias tidak suka akan konflik. Atasan seperti ini adalah Pendengar yang Baik, Pembawaannya Tenang, Sangat Teroganisir. Dalam menghadapi Atasan seperti ini Anda perlu kesabaran dan seringkali mudah dipengaruhi oleh pihak lain sehingga keputusannya seringkali berubah.

Ilustrasi di atas merupakan sekedar gambaran tentang Profil seseorang dengan mempergunakan Metode DISC Profilling. Langkah awal membina hubungan Anda dengan atasan perlu kombinasi dari beberapa tipe dasar tersebut atau melihat situasi lain yang tidak mempengaruhi hal di atas. Selain dari mengenal atasan ada hal-hal yang secara umum disukai oleh atasan kita atau yang dapat dihindari supaya hubungan tetap baik. Berikut beberapa tips umum yang dapat menjadi acuan dasar.

A.  Berikan Informasi Penyelesaian Masalah (Problem Solving) Anda sehingga akan mengurangi Waktu Tersita dari Atasan yang tentunya juga memiliki banyak Permasalahan. Dalam hal Anda harus meminta pendapat atau solusi pastikan Anda tahu persis apa yang menjadi Masalah Utama. Permasalahan terjadi karena ada gap antara Target dan Realisasi. Untuk itu Anda perlu memastikan solusi yang tepat untuk hal tersebut apakah SDM, atau Tenggat Waktu, atau Revisi Target, dan lainnya.

B.  Hindari untuk meminta solusi yang tidak pasti. Hindari untuk memberi kejutan tidak menyenangkan. Atasan paling tidak suka menerima kejutan yang tidak menyenangkan apalagi kalau mendengar dari orang lain. Untuk menghindari masalah ini, Anda harus bersikap Terbuka dan Tidak perlu ada yang ditutupi. Diskusikan resiko-resiko yang mungkin terjadi sebelum sesuatu dieksekusi sehingga dalam pelaksanaannya dapat diprediksi. Andaikan terjadi yang tidak menyenangkan, bicarakan langsung dengan atasan sebelum atasan mendengar dari pihak ketiga.

C.  Beri Informasi selengkap mungkin dan jangan berasumsi kalau Atasan tahu segalanya. Jadi Anda perlu melakukan Edukasi dan Memberi Informasi terkini tentang Situasi, Keadaan dan informasi lainnya.

D.  Cari Waktu yang Tepat untuk memberi informasi. Seringkali kita bertemu dengan waktu yang tidak pas, karena atasan sedang ada masalah, sedang sibuk atau sedang tergesa-gesa. Untuk memperoleh hasil yang optimal gunakan waktu yang pas untuk bertemu.

E.  Ciptakan Kepercayaan dengan tidak memberi Janji yang tidak dapat diberikan. Pertimbangkan secara matang sebelum kita mempunyai komitmen terhadap target atau pun hasil kerja kita. Terlalu sering membuat janji berlebih dapat mengurangi kredibilitas.

Menjaga Hubungan Baik dengan Atasan merupakan sebuah Proses Pengembangan Diri Anda menjadi Pribadi dan Individu yang lebih Handal menjalani Profesionalitas atau Hubungan Kerja dengan Atasan.  Mengetahui dan Memahami Needs and Wants Atasan mempermudah Jalan Karir Profesional Anda.

ikhtisar.com

Leave a Reply