Jangan Rekrut Orang Pintar, namun Carilah Orang Pembelajar

carilah kandidat pembelajarKecerdasan datang dengan caranya masing-masing.  Dan untuk membangun tim kerja yang handal dan solid, mau tidak mau Anda perlu mencari dan memastikan bahwa orang-orang Anda adalah orang cerdas.  Cerdas dalam belajar, bukan sekedar pintar dengan intelektual tinggi.  Jangan pernah merekrut orang pintar, namun rekrutlah orang pembelajar yang cerdas.

Warren Buffet berkata, “Saya mencari orang untuk direkrut dengan 3 kualitas, yaitu Jujur (Integrity), Cerdas (Intelligence) dan Semangat (Energy).  Dan jika mereka tidak punya yang pertama, maka dua yang lainnya akan menghancurkanmu”.  Jelas tampak bahwa Kejujuran (Integrity) merupakan harga mati dalam proses rekrut kandidat tim untuk pertama kali, dan kemudian baru diikuti dengan Kecerdasan (Intelligence).

Kecerdasan menjadi esensial manakala diperuntukkan bagi perusahaan yang tengah berkembang pesat, atau jenis startup company.  Kecerdasan dapat memberikan Problem Solving cepat dan brilian, Ide-ide Inovatif dan Kreatif.  Kecerdasan dapat menggerakkan orang bekerja mandiri, dan mereka hanya memerlukan sedikit waktu untuk berpikir dan berlatih, dan sedikit waktu untuk memberikan hasil positif bagi Anda.

Akan tetapi orang pintar pun dapat sulit diberikan pengajaran, sebagaimana dikutip dari hbr.org, dilema orang pintar bahwa mereka selalu berasumsi sebagai orang terbaik dalam pembelajaran atau pelatihan, namun pada kenyataannya tidak demikian juga.  Inilah mengapa Anda tidak perlu merekrut orang pintar, namun carilah orang pembelajar. Orang pembelajar adalah orang yang selalu berpikiran positif manakala mendapatkan pembelajaran atau pengajaran.  Banyak profesional yang sering sukses dengan pekerjaan mereka dan jarang mengalami kegagalan.  Dan karena jarang gagal itulah mereka tidak pernah belajar dari kesalahan dan kegagalan  tersebut.  Sehingga ketika sebuah strategi gagal berjalan baik, mereka cenderung defensif dan dapat menyalahkan orang lain.

Perilaku orang pintar yang perlu Anda waspadai diantara adalah :

  • Rapuh, dimana mereka sangat resisten dengan masukan dan pendapat orang lain.
  • Defensif, perilaku yang merasa sebagai orang pintar dan jarang menerima ide-ide orang lain.
  • Menyalahkan Tim, kegagalan terjadi karena orang-orang disekitar mereka tidak paham keinginannya

Orang pintar sulit menjalin komunikasi sederhana dengan orang sekitar, sehingga pola pikir atau persepsi masing-masing akan saling bertentangan.

Kunci utama tidak menyalahkan orang lain adalah melakukan introspeksi sebelum melihat faktor luar.  Bagi orang cerdas yang melakukannya secara alami akan belajar cepat dalam situasi kompleks, sedangkan orang cerdas yang arogan tidak akan melakukannya.  Berjuang diawal, baik dalam pekerjaan atau pelatihan, dan mengalami kegagalan adalah sebuah humbling.  Ini akan mengajarkan Anda menjadi pribadi yang introspeksi dan berlatih mengembangkan asumsi pribadi sebelum menyalahkan orang lain.

Ketika mengukur intelegensi, langkah pertama yang Anda lakukan adalah menguji kandidat apakah cukup pintar dengan pekerjaan yang dihadapi. Technical Test atau studi kasus nyata (misalnya penjualan) diperlukan untuk menemukan kandidat dengan IQ tinggi. Selanjutnya, hal yang sama penting adalah memastikan Anda mempekerjakan seseorang yang mampu mempelajari perubahan bisnis dari kegagalan dan keadaan sulit tanpa menjadi defensif. Orang-orang ini tidak hanya akan terus melakukan improvement meski tengah kesulitan, namun mereka juga akan mendorong kemajuan seluruh tim Anda dengan kesediaan mereka untuk mengakui kesalahan dan belajar dari kesalahan.

Leave a Reply