Bagaimana Caranya Anda Menjadikan Gila Kerja yang Efektif?

me timeAnda yang telah menentukan akan menjadi profesional dalam membangun karir, pasti mempunyai persiapan untuk menjalani tahapan-tahapan untuk membangun prestasi kerja yang gemilang.  Bahkan banyak diantara Anda mungkin menjadi seorang yang gila kerja (workaholic).  Tidak salah memang, mumpung masih berusi muda, Anda harus mengejar prestasi setinggi-tingginya. Begitulah kira-kira motto yang banyak dipakai para pekerja profesional yang sedang merintis karier. Kerja lembur, Kerja akhir pekan bahkan membawa pekerjaan ke rumah pun tidak jarang dilakukan.  Namun apakah hal ini efektif dalam pengembangan karir atau pengembangan diri Anda?

Bagi kebanyakan orang, work life balance adalah tantangan yang tidak pernah ada habisnya. Terutama jika terjadi pada masa perusahaan sedang mengejar target. Para karyawan pun berusaha memberikan segalanya karena ingin menunjukkan dedikasi mereka.

Semangat bekerja terutama sangat nyata terlihat pada mereka yang memang menyukai bidang kerja yang digelutinya sehingga kantor menjadi rumah kedua mereka. Meski begitu, gila kerja sebenarnya bisa jadi bumerang. Bukan hanya bagi kesehatannamun juga secara psikologis dapat menyebabkan Anda kelelahan secara mental (burn out).

Jody Greenstone Miller, dari Business Talent Group menjelaskan, secinta apa pun Anda pada pekerjaan, akan lebih sehat jika Anda memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. “Anda harus mulai fokus pada prioritas yang lebih penting,” katanya.

Apa saja yang bisa Anda lakukan untuk mendapatkan keseimbangan pekerjaan dan kehidupan tersebut? Dikutip dari forbes.com ada beberapa langkah sederhana namun efektif dalam membangun karir dan prestasi tanpa harus lupa waktu dalam bekerja.

1.  Pelajari Kebijakan Perusahaan
Sudah banyak perusahaan yang menerapkan kebijakan jam kerja fleksibel dimana Anda dapat bekerja dari rumah. Kondisi ini perlu Anda manfaatkan untuk menunjukkan performa Anda. Akan tetapi Anda tetap membuat batasan kapan waktu mulai kerja, kapan istirahat, dan kapan waktunya berhenti. Sebagian besar orang yang bekerja fleksibel justru mengeluh karena hampir selalu bekerja nonstop.  Konsekuensi Anda bekerja dari rumah adalah komitmen dengan waktu.

2.  Komunikasi
Tidak ada salahnya Anda berkumpul bersama keluarga dan tidak dapat hadir pada sebuah rapat dimana sebenarnya ini adalah hari libur Anda, cukup katakan pada atasan bahwa Anda membutuhkan waktu istirahat.  Satu dua kali mungkin tidak masalah melewatkan waktu libur, tetapi jika hal itu berlangsung terus menerus, tentu Anda berhak meminta jatah libur.

3.  Jangan menjadi Teknologi freak
Teknologi sangat berguna dalam membantu pekerjaan, namun demikian jika Anda tengah bersama anak dan keluarga, lebih bijaksana ketika Anda menjauhkan perangkat teknologi.  hubungan emosional dengan anak dan keluarga akan jauh lebih berdaya guna pada saat terjadi kontak fisik.  Manfaatkan waktu Anda dalam membangun keseimbangan hidup pribadi dan keluarga.

4.  Katakan “tidak “
Ingat bahwa Anda dapat dengan hormat menolak tawaran pekerjaan yang bisa menyita waktu Anda secara berlebih. Tolaklah secara profesional sehingga Anda tidak dipengaruhi oleh rasa bersalah. Dengan demikian saat Anda memang seharusnya bekerja, Anda dapat fokus dan menikmatinya.

5.  Hargai waktu Privasi
Menyelesaikan deadline pekerjaan memang sudah tuntutan yang harus Anda lakukan sebagai seorang pekerja. Tapi Anda juga harus membiarkan diri memiliki waktu pribadi atau “me time” untuk merilekskan pikiran Anda. Dengan begitu Anda bisa lebih menghargai setiap detik yang terjadi pada kehidupan Anda.

Gila kerja mungkin perlu Anda lakukan pada jam kerja, antara 9 to 5 dan Monday to Friday, namun selebihnya Anda perlu gila akan kepentingan untuk memenuhi hasrat dan perasaan pribadi, dimana hal ini sangat berperan dalam pengembangan karir Anda selanjutnya.

Leave a Reply