Faktor Utama Perusahaan adalah Budaya (Culture), Keterikatan (Engagement) dan Kebahagiaan (Happiness)

budaya, keterikatan dan kebahagiaan dalam perusahaan

budaya, keterikatan dan kebahagiaan dalam perusahaan

Budaya perusahaan selalu menjadi topik tanpa habis dibicarakan, mulai dari level staff operasional, middle management hingga top manajemen, dan juga akan berdampak pada brand perusahaan yang menjadi topik pembicaraan calon-calon kandidat yang akan masuk.  Budaya selalu dimulai dari atas dan turun mengalir ke bawah.  Tanpa adanya itikat dan niat yang kuat dari top level manajemen, maka sulit rasanya budaya akan berkembang dan tumbuh mengakar kepada semua lini organisasi.  Figur seorang pemimpin sangat vital bagi kelangsungan budaya perusahaan.  Indikasi dari sebuah budaya yang kuat diantaranya adalah nilai turnover karyawan yang minim, dikisaran 10%.  Lebih dari angka itu, maka perlu pertanyaan mendasar, sepeti apakah perusahaan ini dijalankan?

Tentunya banyak faktor penentuu sebuah perusahaan akan sustain dalam beberapa generasi kedepan, namun faktor budaya yang dibangun merupakan landasan dasar sebuah pondasi kokoh perusahaan, dan tanpa itu, sulit rasanya sebuah perusahaan akan bertahan lama.  Saat ini, sebuah start-up company yang hanya terdiri dari 10 hingga 15 orang pun mulai berpikir bagaimana mengembangkan sebuah budaya perusahaan yang terkait dengan proses kerja mereka, sehingga akan adaptif dengan semua karyawan dan pimpinannya.  Bagaimana dengan perusahaan Anda yang mempunyai lebih dari 100 orang karyawan, atau bahkan ribuan karyawan, yang notabene tentunya budaya perusahaan ini harus semakin mendasar bagi semua orang.  Inilah mengapa faktor utama dalam sebuah perusahaan dapat dimulai dari Budaya (Culture), kemudian berlanjut dengan Keterikatan (Engagement) hingga tercipta namanya Kebahagiaan (Happiness).

Hasil penelitian Gallup kepada para pekerja di Amerika cukup menjadi dasar penilaian dan pertimbangan Anda dalam mengembangkan sebuah organisasi yang kokoh untuk jangka panjang yakni :

1.  13% – Engaged at Work

Mereka yang sudah menjadikan pekerjaan sebagai sebuah kebutuhan tidak hanya jasmani mereka, namun juga kebutuhan aktualisasi diri (jiwa).  Jika mereka bekerja, maka mereka tidak akan berhitung dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan.  Effort kerja tidak perlu diragukan, meski kapasitas atau kompetensi mereka terbatas, namun semangat dan kemauan sangat tinggi, dan inilah yang akan mengangkat kompetensi mereka kelak.  Hubungan kerja dengan rekanan sangat intim dan sangat dekat, sehingga tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.  Angka 13% ini sangat kecil dibandingkan kategori lainnya, dan tentunya sangat berisiko jikalau golongan ini terseret kepada golongan lain.  Sebagian besar mereka inilah yang menjadi back bone perusahaan, dan mereka yang mampu menggerakkan orang-orang lain dalam bekerja.

2.  63% – Disengaged at Work

Mereka yang bekerja sesuai dengan aturan yang berlaku dan tidak banyak terlibat dengan masalah personal atau hubungan diluar pekerjaan. Mereka hanya ingin menghabiskan waktu 8 jam sehari untuk bekerja, dan akan pulang setelahnya.  Mereka tidak perhitungan dengan waktu, namun mereka juga tidak akan memberikan lebih dari apa yang mereka dapatkan dari perusahaan.  Golongan ini sangat dominan dalam struktur perusahaan, dan menjadi pareto bagi perusahaan untuk tetap dipertahankan sebagai gerbong massal mesin perusahaan.  Dalam pekerjaan sedikit emosi yang terlibat, dan mereka akan mempertahankan pekerjaan mereka pada satu posisi.  Tidak ada keinginan yang membuat mereka melakukan lebih dari ekspektasi, jika diminta satu maka mereka akan memberi satu.

3.  24% – Actively Disengaged at Work

Orang-orang yang menjadi salah satu golongan yang perlu diperhatikan oleh perusahaan, dimana angka turnover akan terjadi dari golongan ini.  Mereka sangat sensitif dengan masalah personal sehingga tidak ingin berlama-lama dalam satu posisi manakala terjadi konflik dengan atasan.  Golongan ini cenderung berhitung dalam bekerja, bahkan banyak permintaan atasan yang sering ditolak dengan alasan masih banyak pekerjaan lainnya yang belum kelar.  Alasan-alasan sepele sering muncul dari golongan ini, dan mereka sebenarnya tidak banyak berpengaruh pada kinerja perusahaan.  Golongan 24% ini sering terjadi kepada orang yang tidak menempati posisi ideal, baik karena kompetensi pribadi ataupun karena kondisi perusahaan.  Mereka akan cepat mencari tempat baru manakala tidak melihat keuntungan dari pekerjaannya.

Perusahaan dengan budaya yang kuat dan kokoh, dan diakomodir mulai dari Board of Director, Top Management, Middle Management hingga Operational Level, akan membuat kebahagiaan setiap insan pekerja, sebab mereka sangat terikat (Engage) dengan pekerjaan dan perusahaan.  Budaya-Keterikatan-Kebahagiaan adalah rantai keberhasilan tumbuh kembang perusahaan.  Perusahaan dengan budaya yang kuat hanya mengalami < 15% TurnOver karyawan dan sebaliknya perusahaan dengan Budaya yang lemah mengalami TurnOver >45%.  Masihkah Anda berpendapat bahwa budaya perusahaan itu tidak penting?

Leave a Reply