EQ bagi Pemimpin jauh lebih penting dibandingkan IQ

Pentingnya EQ bagi Pemimpin
Pentingnya EQ bagi Pemimpin

EQ bagi Pemimpin sudah digaung-gaungkan sejak lama.  Tidak lagi IQ yang didahulukan, namun Emotional Quotient (EQ) lah yang menjadi tantangan pertama.  Apa yang dibutuhkan pertama kali bagi seorang pemimpin, IQ atau EQ? Inilah mengapa EQ secara besar-besaran lebih penting untuk kesuksesan Anda.

Ketika para pemimpin telah membuat tren mereka di dunia bisnis, banyak yang mengungkapkan rahasia mereka : IQ tinggi dengan kombinasi pendidikan yang bagus. Mereka ini mungkin tidak sadar atau mengerti bahwa kebanyakan profesional sukses di bidangnya masing-masing lebih karena EQ mereka – bukan IQ.

EQ (atau Kecerdasan Emosional) adalah meningkatnya kesadaran akan emosi orang lain, termasuk emosi Anda sendiri. Sifat vital ini melampaui para pemimpin yang mencoba mengukur suasana hati seorang karyawan – Ini memungkinkan para pemimpin untuk memeriksa situasi bisnis dan melakukan pendekatan yang tepat. EQ bagi Pemimpin dapat menilai emosi pada suatu situasi, positif maupun negatif, dan sangat membantu Anda. Anda akan menjaga karyawan tetap terlibat dan memungkinkan Anda untuk lebih paham pola pikir dan perilaku mereka.

EQ bagi Pemimpin juga menjadi alat yang ampuh mendorong mereka menyelesaikan sesuatu. Anda dapat melihat efek positif dari EQ saat bekerja dengan para pemimpin di perusahaan besar dan kecil. Kemampuan EQ untuk membaca keadaan emosional, reaksi, dan tingkat stres karyawan sangat membantu pemimpin mengelola tim.  Pengelolaan dengan strategi dan pendekatan yang bijaksana serta penuh kasih, bersifat langsung dan dengan hasil yang dapat dilacak.

Pengalaman banyak orang, menjelaskan beberapa ciri berharga yang dimiliki para pemimpin dengan EQ yang tinggi.  Dan beberapa taktik yang dapat ditindaklanjuti, EQ bagi Pemimpin akan membantu menghasilkan lebih banyak pola dan konsep yang handal.

## 1. Membaca kekuatan dan kelemahan emosional karyawan

Nilai memiliki IQ yang tinggi telah sangat berkurang akibat adanya informasi real time tak terbatas yang tersedia di internet. Anda dengan mudah mendapat informasi, opini dan edukasi dari teknologi.  Namun, Anda tidak dapat menemukan kekuatan dan kelemahan emosional karyawan Anda melalui pencarian Google yang cepat. Wawasan emosional bukanlah sesuatu yang mudah disediakan oleh internet.

Saat Anda menjadi manajer tim, maka kecerdasan emosional yang Anda miliki, sangat berpengaruh pada cara Anda handling tim.  Cara Coaching and Counseling, Mentoring atau Guiding sangat bervariasi sesuai kondisi dan situasi tim.  Semua tidak diperlakukan sama, dan tidak ditangani serupa.

Lain kali saat Anda dan tim mengadakan pertemuan informal atau strategis, hati-hati menganalisis siapa yang berinteraksi dan siapa yang diam. Perhatikan dengan seksama, amati gerak-geriknya serta bahasa tubuh mereka.  Siapa yang mengambil inisiatif dan siapa yang harus diarahkan?

Ya, beberapa orang secara alami lebih baik daripada orang lain, tapi seringkali karyawan yang tidak engage merasa tidak puas dengan pekerjaannya dan mereka mungkin sedang dalam pencarian kerja yang lain. Inilah pentingnya EQ bagi Pemimpin.

Beberapa karyawan secara proaktif mempertimbangkan kebutuhan klien atau melampauinya dan melewati standar minimal yang dibutuhkan. Sedangkan karyawan lainnya hanya melakukan sesuai angka minimal, tidak menunjukkan dorongan semangat. Memiliki kemampuan untuk dapat mengidentifikasi aktivitas ini perlu dengan memperkuat perspektif pemimpin.

Pemimpin tidak lagi membantu melatih karyawannya secara terpisah, atau akhirnya menyingkirkan karyawan yang secara diam-diam membangkang.

## 2. Mengetahui kekuatan dan kelemahan emosional Anda sendiri

Setelah Anda paham Kekuatan dan Kelemahan Emosional karyawan, selanjutnya beralih pada diri sendiri.  Anda dapat mengamati banyak pemimpin yang berinteraksi dengan karyawannya dalam sebuah pertemuan kelompok. Saat pertemuan itu bersifat santai (casual) dan nyaman, terkadang pendekatannya begitu agresif, kritis, dan mengintimidasi. 

Karyawannya hampir tidak dapat berbicara, dan ketika mereka melakukannya, mereka hanya membicarakan apa yang mereka pikirkan “apa yang sang bos ingin dengar.” Asal Bapak Senang (ABS) pada akhirnya.  Padahal momen meeting nya bersifat santai, namun atasan masih bersikap agresif.

Sebagai pemimpin Anda berada di dalam pertemuan yang bertujuan untuk belajar lebih banyak tentang pandangan dan pendapat mereka tentang perusahaan. Apa yang terjadi dalam perusahaan dan apa yang dapat diambil manfaatnya dari situasi tersebut.  Anda dapat meminta mereka untuk berkeliling ruangan, menyebut nama, pekerjaan yang tengah dikerjakan.  Anda dapat juga menawarkan kepada mereka memverikan contoh tentang apa yang sedang dikerjakan dan contoh yang tidak berjalan.

Kondisi percakapan yang cair antara karyawan dan bos adalah momen yang sangat dinantikan. Mungkin beberapa dari pemimpin bisnis merasa tidak nyaman, karena posisi mereka sebagai top manajemen seolah tidak diperlukan. Mereka merasa tidak perlu menjadi CEO, tapi cukup sebagai seseorang yang bisa memancing percakapan, mendengarkan dan ikut melibatkan diri.

Secara reguler, hal ini sangat penting bagi para pemimpin untuk menganalisis perilaku karyawan dengan hati-hati. Pemimpin bisnis harus memahami bagaimana hal itu dilihat oleh karyawan. Dari analisis ini, perhatikan baik-baik apa yang Anda lakukan dengan baik dan di mana Anda perlu memperbaiki diri. Penilaian objektif EQ Anda sendiri akan memungkinkan Anda memanfaatkan kekuatan kasat mata dan menemukan kelemahan tersembunyi.  Kekuatan dan Kelemahan Anda adalah obyek untuk pengembangan diri lebih lanjut.

## 3. Sosialisasi

Pengembangan Diri sebagai seorang pemimpin yang handal dimulai dengan cara sosialisasi.  Kemampuan Anda untuk berinteraksi dengan orang lain sangat penting bagi keberhasilan jangka panjang perusahaan Anda. Tidak heran mengapa hanya sedikit orang introvert yang mengelola perusahaan besar – para pemimpin harus bisa berkomunikasi, berkolaborasi, dan keluar dari zona kenyamanan emosional mereka secara efektif.

Sosialisasi berfokus pada hubungan dan komunikasi dengan orang-orang di sekitar Anda.  Anda perlu mengambil mengambil inisiatif dan tidak perlu sungkan melakukannya karena status. Anda perlu menarik perhatian aspek emosional dari konstituen. Mengapa? Karena Anda jelas-jelas menganggap pekerjaan mereka serius dan ingin agar mereka merasa nyaman.

Sebagai seorang pemimpin, Anda perlu keluar dari kantor dan melakukan percakapan nyata,  face to face secara manusiawi dengan tim Anda. Dengan memahami semangat dan keterlibatan mereka dalam pekerjaannya, Anda tidak hanya bisa memotivasi mereka tapi juga meningkatkan kinerja secara keseluruhan.

Agar bisa menjadi pemimpin, Anda harus memanfaatkan Kecerdasan Intelektual (IQ) dan Kecerdasan Emosional (EQ). Dengan kecerdasan emosional Anda – benar-benar fokus untuk bersikap sangat tanggap terhadap situasi, sikap karyawan, dan pendekatan mereka terhadap interaksi. Penerapan ketiga konsep EQ bagi Pemimpin setiap saat, dampaknya adalah perspektif perusahaan Anda yang akan menjulang.  Seiring itu pula akan menyebabkan peningkatan produktivitas, kekuatan, dan loyalitas.

Leave a Reply