3 Elemen Pengambilan Keputusan agar Lebih Baik

Elemen pengambilan keputusan agar lebih baik
Elemen pengambilan keputusan agar lebih baik

Manajemen harus secara SADAR mengintegrasikan unsur NALURI, PENILAIAN dan PERSPEKTIF dalam proses pengambilan keputusan untuk hasil yang optimal.  3 hal tersebut menjadi elemen pengambilan keputusan agar lebih baik. 3 Elemen Pengambilan Keputusan agar lebih baik sudah menjadi pola berpikir semua pemimpin bisnis.

#Bagaimana seorang CEO paling berpengaruh di dunia membuat keputusan?

Tentunya semua bervariasi. Jeff Bezos menganalisis keputusan dari sudut pandang MASA DEPAN. Martin Sorrell dari WPP lebih suka mengumpulkan WAWASAN sekelompok orang yang beragam dan menciptakan “NERACA” sebelum keputusan. Sementara itu, CEO veteran Lars Rebien Sørenson mempertimbangkan variabel KUALITATIF dan KUANTITATIF.  Hal-hal seperti metrik keuangan dan nilai perusahaan, bilamana dihadapkan pada pilihan yang sulit.

Terlepas dari perbedaan keputusan tersebut, para CEO ini memiliki kesamaan: Mereka dengan sengaja menerapkan proses pengambilan keputusan yang SADAR, KETAT dan sepenuhnya UNIK bagi mereka sebagai individu.

Data dari Vistage Research menunjukkan bahwa itu semua bukan kebetulan – dan itu tidak hanya berlaku untuk CEO dengan nama besar dari organisasi besar dan kompleks. Studi dan penelitian bertahun-tahun berhasil lmempelajari PRAKTIK pengambilan keputusan CEO dari sebuah bisnis.  Baik bisnis dengan pertumbuhan tinggi, menengah atau kecil, dan dari berbagai industri dan geografi.

Penelitian menemukan KINERJA TERBAIK perusahaan dipimpin oleh CEO yang BIJAKSANA dan SADAR terhadap pengambilan keputusan. Hasil studi juga menemukan bahwa pengambil keputusan utama ini mengintegrasikan NALURI, PENILAIAN dan PERSPEKTIF saat membuat keputusan yang KOMPLEKS dan BERISIKO tinggi. Kompetensi inti ini mengarah pada apa yang disebut “Optimized Decision Making

Bagaimana ketiga elemen ini bekerja dalam aplikasinya, dan bagaimana Anda bisa menggunakannya untuk MEMBANGUN dan MENGOPTIMALKAN proses pengambilan keputusan.

#Dari INTEGRASI menuju OPTIMASI

Ketiga Elemen pengambilan keputusan diatas perlu Anda satukan dalam sebuah integrasi pemikiran, sehingga akan memberikan hasil optimal.  Dan untuk kejelasan lebih lanjut, kiranya Anda perlu jelajahi berbagai peran dari INSTING, PENILAIAN dan PERSPEKTIF dalam proses pengambilan keputusan.

  • NALURI atau Insting adalah reaksi alam bawah sadar Anda terhadap sebuah SITUASI atau STIMULUS. Tindakan yang Anda lakukan terkadang tanpa melalui PROSES berpikir lama. Otomatis Anda bersikap dengan adanya stimulus dari sebuah AKSI.
  • PENILAIAN adalah penerapan DATA dan PENGALAMAN untuk menganalisis situasi. Situasi kondisi yang didukung oleh FAKTA dan DATA menjadi dasar sebuah penilaian (judgment). Dasar berpikir yang analitik diperlukan dalam sebuah penilaian. Dan penentuannya berpijak pada hasil analisa data pendukung.
  • PERSPEKTIF adalah mencari kekuatan eksternal yang dapat memperluas, mempengaruhi atau mengubah sudut pandang Anda. Sudut pandang atau perspektif adalah pilihan yang terjadi karena adanya faktor lain yang menjadi data pendukung. Perspektif bisa berubah jikalau hasil penilaian memperkuat situasi yang ada.  Tidak ada yang salah dengan perspektif Anda, karena semua diperkuat adanya data analisa.

Ada korelasi antara kepentingan atau kompleksitas keputusan, dan prinsip penerapan naluri, penilaian dan perspektif terhadap proses pengambilan keputusan Anda.  Elemen pengambilan keputusan dapat dimodifikasi saat implementasinya.  Saat Anda menghadapi keputusan sederhana (mis., memesan perlengkapan kantor), Anda hanya perlu naluri untuk memberikan jawaban.

Untuk keputusan yang lebih kompleks (mis., membuat kontrak baru), insting dan penilaian dapat membawa Anda pada pilihan yang tepat. Dalam kasus keputusan kompleks dan berisiko tinggi (mis., memasuki pasar baru), yang terbaik adalah melakukan INTEGRASI naluri, penilaian dan perspektif.

Integrasi tidak berarti menambahkan variabel-variabel ini secara bersamaan. Ini berarti membiarkan interaksi konstan antara gagasan, pendapat dan arahan yang berbeda atau berlawanan; Ini berarti negosiasi antara naluri dan logika, data dan pendapat Anda, pandangan Anda dan pandangan orang lain. Menjangkau semua ini membutuhkan KEDISIPLINAN, KESADARAN DIRI, KERENTANAN dan KETERBUKAAN terhadap gagasan baru.

Akan sangat membantu pengambilan keputusan jika Anda bertanya kepada diri sendiri seperti

  • Seberapa kuat Anda percaya apa yang dikatakan oleh naluri Anda?
  • Berapa banyak bobot pengalaman saya sendiri dibandingkan dengan pengalaman orang lain?
  • Sampai sejauh mana saya harus tahu – atau tidak tahu – apa yang saya tidak tahu?

CEO sesungguhnya berada dalam bisnis membuat keputusan, dan proses ini menjadikan Anda siap membuat keputusan yang lebih baik. Namun, jika kesalahan terjadi, jika Anda membuat pilihan yang buruk, gunakan sebagai kesempatan untuk memperbaiki penilaian Anda dan menarik pengalaman saat mengambil keputusan lainnya.  Gunakan 3 elemen pengambilan keputusan tersebut agar hasilnya lebih baik.

Apapun, Anda harus percaya diri untuk mengatakan: Saya menerapkan proses yang bijaksana untuk keputusan ini. Saya membuat pilihan terbaik dengan informasi yang saya miliki. Dan jika saya berkomitmen pada proses pengambilan keputusan ini, pada akhirnya akan memberikan hasil yang lebih baik untuk organisasi saya.

Leave a Reply