Manfaat Mengumpulkan Data dan Melakukan Analisa dalam sebuah Improvement Project

data analitikData merupakan dasar utama (Fundamental) bagi setiap lini organisasi atau level manajemen dalam melakukan Rencana Pengembangan Berkelanjutan (Continuous Improvement Planning).  Setiap pertemuan dan rapat harus selalu berdasarkan Data atau Fakta yang ada untuk dipresentasikan.  Anda pasti sudah sering mendengar kata-kata “Speak by Data…..”.  Jika ditanyakan artinya, mungkin kita sepakat : “Berbicaralah sesuai dengan Data yang ada….” atau “Berbicaralah sesuai Fakta atau Kenyataan yang ada….”.

Data sangat banyak sumbernya, dan variasi penyajiannya.  Data dapat bersumber dari Internal Organisasi ataupun Eksternal, seperti Internet, Media Cetak, Media Audio Visual.  Pada suatu waktu Anda tentu pernah mendengarkan seorang penyiar radio menyampaikan sebuah berita atau informasi yang digunakan sebagai selingan diantara lagu. Kurang lebih si penyiar radio berkata seperti ini : “ Para pendengar, tahu kah Anda bahwa di tahun 2010 jumlah penduduk yang memiliki televisi di negara “C” (Negara Besar di Asia) lebih banyak dari jumlah penduduk yang memiliki televisi di negara “A” (Negara Adidaya), di negara “C” sebanyak 550 Juta sedangkan di negara “A” sebanyak 250 juta, demikian di beritakan oleh salah satu jejaring sosial yang cukup ternama…..”.  Berita Informasi radio tersebut diatas adalah kategori Data Eksternal yang disajikan oleh salah satu Jejaring Sosial (Internet).

Data sebagai Bahan Analisa

Penyajian Data tidak hanya Aktual, namun perlu ditelaah secara Akurat dan Tepat.  Telaah Data inilah yang harus dikembangkan oleh Tim Improvement untuk mendapatkan Perbaikan dan Inovasi baru.  Data tidak dapat ditelan mentah-mentah karena akan membuat rancu dalam penyajian Rencana Kerja Improvement.

Sekilas berita tersebut diatas adalah sebuah informasi yang wajar dan benar. Namun jika kita cermati lebih mendalam, setelah melewati Telaah dan Analisa, telah terjadi kesalahan kesimpulan dari data yang di informasikan dalam berita tersebut.  Mengapa demikian ? Begini penjelasan singkatnya :

Pada tahun 2010, penduduk negara “C” yang memiliki televisi adalah sebesar 550 Juta, dan di negara “A” adalah 250 juta. Namun Jumlah penduduk Negara “C” pada tahun 2010 adalah 1,3 Milyar, sedangkan negara “A” adalah 310 juta jiwa. Jika kita bandingkan antara data penduduk yang memiliki TV dengan jumlah penduduk di negara “C” dan “A”, maka kita dapatkan : Negara “C” = 550/1.300 = 42%, dan “A” = 250/310 = 81%.  Dari data perbandingan tersebut kita dapat lihat bahwa sebenarnya Persentase penduduk negara “A” yang memiliki televisi jauh lebih besar dari “C” (kontradiksi dengan informasi yang di beritakan oleh penyiar radio diatas).

Anda dapat melihat dan mencerna lebih detail bahwa Penyajian Data memerlukan Analisa Kualitatif, dan tidak hanya Analisa Kuantitatif.

Contoh berikut dapat memperkuat kesimpulan tentang perlunya Analisa Data secara Kuantitatif dan Kualitatif.  Anda sering mendengar informasi yang akhir-akhir ini ramai diberitakan tentang meninggalnya beberapa tokoh masyarakat setelah usai melakukan aktivitas olahraga (sepak bola, futsal, bulutangkis dll). Dalam pemberitaan tersebut memang dipaparkan dengan jelas Data dan Fakta Jumlah dan Nama Tokoh yang mengalami hal tersebut yang bagi sebagian orang (khususnya orang awam) dapat mengartikan “seakan-akan” olahraga tertentu (sepak bola dan bulutangkis) berbahaya dilakukan pada usia tertentu dan dapat menyebabkan kematian (kesalahan dalam menetapkan sebab dan akibat). Hal ini tentunya sangat menggelitik bagi kita, karena kita tahu ada jutaan orang (muda dan tua) yang setelah beraktivitas olahraga (sepak bola atau bulutangkis) kondisinya sehat-sehat saja dan bahkan semakin bugar.

Apa yang ingin di sampaikan disini ?

Bahwa data adalah sekumpulan Angka-angka (Kuantitatif) atau Kata (Kualitatif) yang dapat digunakan untuk mendapatkan sebuah informasi. Tetapi masih banyak orang yang salah dalam menginformasikan atau menyimpulkan arti dari sebuah data yang disebabkan karena kesalahan dalam “membaca” data.  Jadi dibalik kata-kata “Speak by data…” sesungguhnya ada satu kata penting yang perlu diperhatikan, yaitu “Analysis”. Dimana dari sebuah data yang sama, dapat dihasilkan kesimpulan berbeda (bisa salah atau benar) yang sangat bergantung pada kemampuan analisa dari orang yang menggunakan data. “Speak by data..” memang benar, tapi jangan lupa meng-analisa… Karena, data tanpa analisa tidak akan berarti apa-apa.

Improvement merupakan kegiatan yang harus dilakukan berkelanjutan, sehingga Analisa Data secara Kuantitatif perlu diimbangi Analisa Kualitatif.  Analisa Kuantitatif merupakan Deskripsi Lengkap Angka-angka yang tersaji dari Fakta atau Data yang didapat.  Analisa ini dapat tersaji berupa Grafik, Histogram, dan lainnya.  Melalui Analisa Kuantitatif dapat diperoleh beberapa Indikator penting diantaranya:

  • Trend Pencapaian (Kinerja) dalam Rentang Waktu tertentu
  • Progress Pencapaian dari waktu ke waktu
  • Target yang ditetapkan dalam Rentang Waktu tertentu
  • Dominasi suatu Indikator dalam waktu tertentu

Selanjutnya setelah melakukan Analisa Kuantitatif, Tim Improvement maupun Lini Organisasi yang terkait perlu melakukan Analisa Kualitatif.  Analisa ini merupakan Analisa secara mendalam dengan berpegang pada prinsip 5W (What, Who, Why, Where, When).  Implementasi 5W seperti berikut:

  • Apakah (What) yang menjadi penyebab Trend Pencapaian cenderung rendah..?
  • Siapakah (Who) pelaku dalam pencapaian kinerja ini..?

Masih banyak yang perlu dilakukan dan ditelaah dalam menjalani Perbaikan Berkelanjutan (Continuous Improvement), tidak hanya Analisa Data secara Kuantitatif namun perlu dilengkapi dengan prinsip 5W untuk mendapatkan Analisa Data Kualitatif.

Leave a Reply