Coaching Efektif dan Efisien

Bersikap jujur bahkan dalam sebuah obrolan pun terkadang menjadi sangat sulit, karena kebiasaan kita sebagai manusia selalu ingin tampil wah (Good Looking) baik secara fisik maupun pemikiran dan wawasan.  Sehingga sedikit banyak akan ada bumbu dalam setiap Ucapan, Pernyataan atau Alasan dan Pendapat.  Dan ini akan menjadi semakin membuat rancu sebuah Hubungan Komunikasi, apakah memang terjadi dengan Natural dan Alami atau sudah membentuk Skenario dengan Maksud dan Tujuan tertentu.

Jujur dan Objektif bukan hal mudah diterapkan, sehingga dalam pemberian Umpan Balik atau Masukan (Feedback) pun akan cenderung mengesampingkan Jujur dan Objektif.  Bukanlah perkara mudah memberikan penilaian terhadap Sikap, Performa dan Ketrampilan seseorang.  Namun Anda perlu pahami bahwa pengembangan Tim Anda perlu dilakukan dan tidak dapat dihindari.

Bagaimana Anda sebagai seorang Manajer dan Pimpinan Perusahaan menjaga sikap Jujur dan Objektif ini, agar pembinaan dan pengembangan anak buah dapat berlangsung dengan Benar dan Baik.  Bagaimana Anda dapat melakukan Coaching yang Efektif dan Efisien bagi pertumbuhkembangan organisasi.  Yang terpenting saat ini adalah menanamkan pentingnya Coaching baik bagi Sendiri maupun Tim Anda.

Penelitian terhadap 28.000 manajer dari 117 perusahaan menjelaskan bahwa Coaching masih menjadi kegiatan yang Rancu dan tidak Produktif.  Hal ini disebabkan karena tidak adanya hubungan dua arah antara Atasan dan Bawahan.  Hasil survey mengatakan bahwa kesulitan utama adalah Umpan Balik keatas, yakni memberi masukan kepada Atasan atau Pimpinan.  Beberapa alasan mereka tidak mampu melepas Umpan Balik keatas adalah:

  • Budaya Perusahaan
  • Hasrat menyenangkan Atasan
  • Idealisme
  • Ego dan Arogansi

Coaching pada dasarnya adalah untuk membangun Tim Anda menjadi Solid dan Kuat.  Namun terkadang proses coaching perlu juga adanya Masukan, Inputan bahkan Kritikan dari Coachee terhadap Anda. Dengan demikian proses pelaksanaan Coaching dapat Efektif dan Efisien.

Belajar Menerima Umpan Balik (Feedback)

Sebuah buku tentang kepemimpinan berjudul “Realizing The Power of Emotional Intelleigence, karangan Daniel Goleman, menggunakan istilah “The CEO Disease”, yaitu gejala di mana para pimpinan tertinggi tidak bisa  merasakan suasana hati organisasinya, kehilangan  kepekaan untuk meraba tingkat kejujuran dalam organisasi. Penyebabnya adalah

  • Kurang Terbuka
  • Kurang Mendengar
  • Kurang Menggali umpan balik

Cobalah Anda bayangkan seorang pimpinan tertinggi organisasi menghalalkan umpan balik palsu terhadap dirinya, dan pada akhirnya akan menutup  semua peluang Transparansi dan Akuntabilitas Lingkungan Perusahaan.

Hasil penelitian justru banyak menunjukkan data yang sediki berbeda yakni, banyak para pemimpin dengan Tingkat EQ yang baik, justru banyak mengejar Umpan Balik  (positif atau negatif).  Sementara Anda melihat tidak semua orang mampu melakukannya.  Hal ini tidak terlepas dengan adanya keinginan Membentengi Diri dari Kritik dan Masukan yang “Melukai”.  Sebagai pemimpin justru Anda perlu menjadi Coachee yang baik sebelum berperan sebagai Coach.  Sebelum Anda memberikan Umpan Balik pada Tim, maka asah kemampuan Anda Menerima, Mencerna dan Mengolah Umpan Balik dengan Bijaksana.  Alih-alih membuka diri terhadap Umpan Balik, individu bisa jadi malah menunjukkan sikap anti-kritik, mencari pembenaran, bahkan “ngeles” alias “denial”. Dan sangat disayangkan program pengembangan kepemimpinan yang ada, lebih banyak melatih cara Memberi Umpan Balik, ketimbang cara Menerima dan Mengolah Umpan Balik.

Anda perlu menyusun Strategi dan Mekanisme Baru agar mampu bersikap Positif atas Umpan Balik yang diterima dan mengarahkan energi melakukan perubahan tersebut.  Proses Perubahan yang Terbuka, Transparan dan Terlihat Lingkungan akan memberikan Teladan bagi orang lain.  Belajarlah Menerima dan Mengolah Umpan Balik terlebih dari Bawahan atau Tim Pendukung Anda.  Maka Anda akan tumbuh menjadi seorang Coach yang mampu melakukan Coaching secara Efektif dan Efisien.

Jujur dan Peka dalam Keseharian

Kejujuran dan Keterbukaan menjadi barang langka saat ini, karena banyaknya kepentingan individu dan kelompok yang bertentangan.  Sedikit CEO yang mau bersikap Terbuka dan Bebas mendengar Masukan atau Kritikan.  Padahal ini menjadi jalan menuju Coaching Efektif dan Efisien.  Coaching yang efektif harus berlangsung one-on-one dan diwarnai hubungan pribadi, rasa percaya dan kejujuran.  Proses Coaching bukan menjadi justifikasi seseorang atas kinerjanya, justru menjadi proses pembelajaran kedua pihak (Atasan dan Bawahan).  Tetap dapat dilakukan Penilaian terhadap Kinerja Buruk seseorang dan tetap ada kemungkinan Perubahan Lebih Baik daripada sekedar menghakimi mereka sebagai Beban Perusahaan.  Sebagai seorang pimpinan yang berfungsi menjadi Coach, Anda perlu memahami karakter masing-masing anggota tim dan membawa suasana hangat dan pesan yang tepat bagi mereka.  Contoh perilaku akan membuat pesan Anda lebih Jelas dan Anda terkesan tidak menyudutkan dan tidak memaksakan porsi kerja.  Jadikan masukan sebagai partner Anda membangun organisasi lebih Sehat dan Kuat, dan perilaku Jujur serta Terbuka terhadap semua anggota tim untuk membawa Kenyamanan dan Kekeluargaan dalam lingkungan kerja.

Leave a Reply