Mungkinkah Budaya Perusahaan dapat menjadi Musuh dalam Selimut bagi Organisasi Anda?

corporate culture changeBudaya organisasi merupakan salah satu landasan bagi perusahaan untuk bertumbuh dan berkembang, dalam jangka pendek, menengah atau jangka panjang.  Sedemikian banyak para pemimpin atas perusahaan akan membangun dan menciptakan sebuah budaya perusahaan dan organisasi yang sesuai dengan visi dan misi.  Dan dengan demikian pula, pola pendidikan, pelatihan dan perekrutan calon atau kandidat karyawan selalu mengacu pada sejauh mana kapasitas dan kapabilitas sang kandidat sesuai dengan budaya perusahaan.  Inilah yang akan membangun organisasi bisnis khususnya makin berkembang.

Seiring perkembangan jaman, ternyata mulai berlaku slogan perubahan atau mati dan tersingkir dari kompetisi yang makin agresif.  Makin banyak pula perusahaan yang berbondong untuk segera berbenah dan melakukan perbaikan, efektivitas dan efisiensi dalam segala proses yang dilakukan.  Nah dalam rangka berubah inilah banyak faktor penghalang, dan sangat tidak disadari adalah musuh dalam selimut yakni budaya perusahaan, yang telah terbangun sejak awal berdirinya sebuah organisasi.

Ken Blanchard penulis buku Leading at Higher Level, menuliskan ada sekitar 15 penyebab kegagalan dalam usaha perubahan sebuah organisasi, salah satu diantaranya adalah kegagalan pemimpin dalam memprediksi bagaimana budaya organisasi siap menghadapi perubahan atau bahkan menjadi senjata yang mematikan diri sendiri.

Berikut beberapa kondisi dimana budaya perusahaan dapat menjadi musuh dalam selimut bagi perubahan organisasi Anda menjadi lebih baik.

  1. Birokrasi Lambat, yang mengganjal setiap usaha perbaikan yang akan dilakukan.  Sehingga sebuah kreativitas karyawan yang hebat sekalipun akan menjadi sia-sia karena birokrasi yang telah mengakar sejak lama.
  2. Tulisan Safety First menjadi wacana yang ditempel disetiap sudut ruangan, dimana bertujuan agar masing-masing karyawan peduli dengan bahaya mengancam jika merokok sembarangan.  Namun sering terlihat banyak para supervisor dan manajer yang berlaku demikian tak jauh dari lokasi yang riskan.
  3. Sistem rekrut yang mengacu pada pasar bebas dimana setiap staff dapat melamar posisi apapun namun harus terganjal dikarenakan budaya pertemanan yang sangat kental, sehingga sebuah gerbong akan berisi teman dan kolega masing-masing atau nepotisme.
  4. Merger yang gagal disebabkan perpaduan budaya yang berbeda.

Budaya adalah perilaku yang konsisten terjadi dan dilakukan berulang oleh masing-masing karyawan dimana hal ini terlahir dari nilai-nilai yang dianut oleh organisasi. Resistensi sebuah perubahan adalah pada manusia yang menjalankannya, sehingga jika budaya perusahaan terlalu mengedepankan faktor operasional dan teknis maka akan sulit manajemen mengimplementasikan perubahan tersebut.  Beberapa contoh lainnya sebuah budaya perusahaan yang akan menghalangi perubahan menjadi lebih baik diantaranya adalah :

1.  Struktur Organisasi yang hirarkis dan kepemimpinan yang top-down.

2.  Tidak berjalannya pemberdayaan, karena ketidakpercayaan dari pimpinan.

3.  Budaya yang tidak menuntut akuntabilitas namun menyalahkan sebuah kondisi yang terjadi.

4.  Budaya kritik yang mematikan ide dan kreativitas.

5.  Manajemen atas meminta perubahan namun tidak melakukannya.

Melakukan perubahan pun perlu memahami dan mengenali budaya yang ada sehingga dapat sejalan, jangan sampai Anda sebagai pemimpin organisasi melakukan pekerjaan yang sia-sia ketika mengedepankan perubahan tanpa analisa dari kondisi budaya perusahaan yang ada.

Leave a Reply