Bolehkah menjadi Karyawan yang Workaholic

workaholicKerja keras adalah dasar keberhasilan Anda dalam membangun Karir Profesional.  Kerja keras bukan lagi menjadi halangan untuk sukses, namun justru menjadi cara efektif bagi Anda menjadi pribadi yang handal dalam Kompetensi Kerja.  Dan dengan makin berkembangnya dunia profesional maka Kerja Keras perlu dilakukan dengan cerdik atau smart.  Sehingga Anda bekerja tidak lagi ibarat kerja fisik yang betul-betul keras, menguras tenaga dan pikiran sekaligus.  Kerja keras tidak dapat disamakan dengan workaholic, yakni istilah bagi orang yang kecanduan dengan pekerjaannya.  Istilah workaholic mungkin berkonotasi negatif, dimana orang yang keranjingan bekerja cenderung lupa dengan dampak buruknya, seperti tingkat kesehatan mental dan fisik.

Sebagai pimpinan sebuah organisasi, maka Anda perlu memperhatikan sejumlah orang yang terlibat sebagai tim pendukung Anda, yang kemungkinan mempunyai sifat kerja keras yang berlebihan atau workaholic.  Kecenderungan ini perlu dikelola dengan bijaksana, karena yang utama dalam sebuah organisasi adalah tumbuh kembang dalam jangka panjang. Berikut ciri-ciri karyawan Anda yang mungkin mempunyai dasar sifat workaholic

  1. Tidak mau mengambil cuti terkait keperluan pribadi atau keluarga.  Hal ini dikarenakan merasa bahwa pekerjaan harus dituntaskan sementara kepentingan pribadi dapat dilakukan pada saat libur akhir pekan.
  2. Tidak meninggalkan meja kerja pada saat jam istirahat demi pekerjaan yang harus selesai tepat waktu.  Istirahat diabaikan demi sebuah keberhasilan kerja, dan ini akan berdampak buruk dalam jangka panjang, dimana tingkat emosional dan stress makin tinggi.
  3. Kurang bergaul dengan rekan kerja lainnya.  Sebuah hubungan personal antar rekan kerja yang jauh dari sisi pekerjaan tetap harus dibina, demi mendapatkan ide kreatif dan inovatif.  Sedangkan para workaholic cenderung terlibat hubungan personal hanya sebatas kebutuhan data atau analisa.

Workaholic harus diarahkan dengan positif agar pertumbuhan organisasi tetap berlangsung sesuai Business Plan yang sudah dicanangkan.  Fasilitas kerja, Sistem dan Prosedur yang baik akan menunjang performa para workaholic.  Produktivitas yang tinggi dari para workaholic tidak semena-mena menjadi konsumsi Anda sebagai Pimpinan, dan mengabaikan sisi manusiawi mereka.  Justru dengan sifat tersebut, Anda perlu menjaga para workaholic dengan baik, agar tenaga dan pikiran mereka tetap berkontribusi pada perusahaan.  Para workaholic tidak selalu bersifat egois atau individualis, namun dapat juga menjadi teman yang menyenangkan.  Akan tetapi Anda jangan berharap mereka mempunyai banyak waktu luang untuk sekedar bercengkrama tentang hal selain pekerjaan.

Berikut beberapa hal penting yang dapat Anda jadikan pelajaran dalam mempertahankan talenta terbaik yang bersifat gila kerja.

  1. Pahami sumber daya yang dibutuhkannya, secara fisik ataupun non fisik. Akses yang berguna dalam performa mereka perlu dipersiapkan secara wajar dan tidak berlebihan.  Gila kerja adalah sifat personal, sehingga pendekatan Anda pun perlu dilakukan secara personal, dan tidak menjadi ancaman atau pertanyaan bagi anggota tim lainnya.
  2. Berikan ekspektasi yang wajar dan realistis.  Tidak perlu menjadikan mereka sebagai sapi perah Anda, karena prestasi dan performa tingginya.  Ibarat mobil balap pun tetap perlu perawatan berkala yang intensif.

Menjadi karyawan yang gila kerja adalah tidak salah dan menjadi target serta tujuan pribadi masing-masing Anda.  Dan ketika Anda menjadi pemimpin mereka, perlu kiranya untuk mengadopsi kebutuhan sumber daya yang bermanfaat bagi pengembangan karir mereka khususnya.  Para penggila kerja tentu mempunyai target pribadi, keinginan dihargai dan dibutuhkan oleh lingkungan kerjanya.  Bolehkah Anda menjadi gila kerja?  Semua kembali sejauh mana Anda menjadikan pekerjaan sebagai proses aktualisasi diri.

Leave a Reply