Apa yang dapat dipelajari dari Japanese Management,  Pendekatan Tradisi dan Budaya

cerminan tradisi dan budaya dalam gaya manajemen jepangBangsa Jepang terkenal dengan berbagai kemajuan yang mereka miliki dalam bidang ekonomi khususnya, dan meski dengan kemajuan tersebut, mereka masih mampu mempertahankan budaya dan tradisi bangsa yang kental. Keberhasilan Jepang telah menjadikannya sebagai supplier utama bagi bangsa barat Amerika dan Eropa untuk berbagai industrinya sekaligus menjadi customer dan competitor.  Amerika Eropa menyadari Jepang pun telah menjadi guru mereka dalam berbagai inovasi industri, dan menjadikan pelajaran dalam Pengambilan Keputusan, Corporate Planning, Produktivitas Individu dan Pelatihan Manajemen.

Konsentrasi manajemen barat dapat dibedakan dalam beberapa list berikut ini :

  • Pengambilan Keputusan yang Efektif
  • Harmonisasi Keamanan Pekerja
  • Pengembangan Manajer Muda

Sedemikian para manajer Jepang tidak melakukan hal tersebut dalam mengembangkan bisnis perusahaan mereka.  Menurut Peter F Drucker (1971), ada beberapa hal prinsip yang dilakukan Jepang dalam penanganan manajemen mereka.

1.  Keputusan Konsensus

Hampir seluruh institusi Jepang akan mengambil keputusan berdasarkan sebuah konsensus, sehingga tidak jarang terjadi perdebatan dalam mencapai sebuah kesepakatan bersama (konsensus).  Pendekatan ini tidak mudah bagi kebanyakan manajemen barat, karena menjadikan kebingungan dan potensi tidak menghasilkan apa-apa.

2.  Fokus pada Masalah

Pengertian fokus pada masalah artinya bukan mengesampingkan solusi dari masalah tersebut, namun lebih kepada sejauh mana pertanyaan (baca : masalah) yang muncul tersebut adalah sebuah masalah.  Apakah pengambilan keputusan memang sudah tepat dari masalah yang ada, ataukah perlu pendalaman lebih jauh mengenai masalah yang terjadi.  Inilah yang disebut dengan pencapaian konsensus dalam manajemen Jepang, sementara barat akan langsung pada pengambilan keputusan dari sebuah masalah.

3.  Aksi dan Tindakan

Jika barat menyebutnya sebuah keputusan, Jepang akan menyebutnya sebagai aksi nyata.  Setelah pengambilan keputusan mereka akan menetapkan orang yang terlibat dalam pelaksanaan keputusan.  Pada saat konsensus terjadi mereka sebenarnya sudah dapat melihat keterlibatan orang-orang, sehingga penentuan orang oleh manajemen puncak hanya akan menjadi sebuah hal yang tidak mengejutkan.

4.  Peningkatan Efektivitas

Mungkin manajemen Jepang dengan pola pengambilan keputusan berdasarkan konsensus akan lebih lama menghasilkan sebuah keputusan, namun sekalinya mereka membuat keputusan, akan sangat mudah dalam implementasinya.  Berbeda dengan keputusan “cepat” Barat yang mungkin masih memerlukan pendekatan personal dalam pelaksanaannya.  Proses inilah yang meningkatkan efektivitas dalam manajemen Jepang, karena setiap orang telah terlibat dalam sebuah pengambilan keputusan.

5.  Peningkatan Fokus

Manajemen Jepang memaksa mereka untuk membuat sebuah keputusan besar, dan hal ini akan cukup rumit dalam pengambilan keputusan untuk hal-hal kecil.  Inilah yang menjadikan manajemen Jepang terkadang tidak membuat keputusan sama sekali.  Mereka lebih fokus pada hal-hal besar dengan dampak besar.

Leave a Reply