Alasan Pegawai Pria dan Wanita Sulit Bekerja Sama

Alasan Pegawai Pria dan Wanita Sulit Bekerja Sama

Alasan Pegawai Pria dan Wanita Sulit Bekerja Sama

Ikhtisar.com – Produktivitas kerja di kantor ternyata juga ditentukan oleh gender. Meski saat ini telah banyak didengungkan mengenai kesetaraan gender, namun pekerjaan pria dan wanita tentunya tidak bisa disamakan. Bahkan berdasarkaan statistik menunjukkan banyak dari mereka yang memilih untuk berhenti atau merasa tertekan karena tidak bisa menyamai pekerjaan lawan jenisnya.

Penelitian menunjukkan bahwa banyak pegawai yang mundur bukan karena kemampuan yang dimilikinya kurang, melainkan karena mereka merasa tidak sanggup untuk menghadai pawan jenis di kantor.

Bahkan para pakar psikologi mencari tahu mengenai pola kerja pria dan wanita di perusahaan. Hasilnya, dari ribuan wawancara pada pegawai pejabat pria dan wanita pada 60 perusahaan besar yang ada di majalan Fortune 500 menunjukkan hasil yang mencengangkan.

Bahkan Annis, penulis buku Men Are from Mars, Women Are from Venus menjelaskan bahwa sebagian besar wanita tidak benar-benar mendalami pekerjaannya karena merasa gagasannya tidak dianggap penting. Hal ini tentunya menyebabkan prioritas pekerjaan wanita dan pria menjadi berbeda. Namun di sisi lain hal ini menjadikan banyak wanita akan bekerja keras dibandingkan pria untuk menunjukkan kredibilitasnya.

Budaya kerja dalam satu kantor antara pria dan wanita bisa terlihat perbedaannya. Apalagi dengan sikap yang saling bertolak belakang. Sebagian besar wanita lebih banyak menggunakan perasaan saat bekerja, sementara pria lebih banyak menggunakan logika. Meski keduanya dibutuhkan dan tergantung pada industri apa yang mereka geluti, namun jika kontrol diri yang tidak benar akan mengakibatkan hasil pekerjaan yang kurang memuaskan.

Alhasil cara dan metode yang mereka lakukan untuk menyelesaikan pekerjaan jelas berbeda. Hal ini lah yang menjadi alasan terkuat kenapa pegawai pria dan wanita sulit untuk bekerja sama dan justru memberikan dampak negatif karena karakter masing-masing yang sangat berbeda.

Para pakar personalia banyak menganggap hal ini sebagai hukum alam sehingga mereka akan menempatkan dalam satu bagian posisi yang proporsional, misalnya pada bagian tertentu harus lebih banyak pria dan sebaliknya ada pula yang harus lebih banyak wanita.

Selain itu agar hubunga kerja tetap produktif pria dan wanita haus mengesampingkan perspektif masing-masing dalam urusan pekerjaan. Sehingga mereka tidak akan terus berada pada debat berkepanjangan dan segera mendapatkan keputusan tepat yang harus diambil. Pada kondisi inilah posisi atasan dituntut untuk bisa menjembatani pendapat dari pegawai pria dan wanita yang kadang bertolak belakang.

Jika Anda tengah menghadapi hal ini, jangan merasa aneh karena setiap manusia pria maupun wanita diciptakan dengan unik dan sempurna. Sehingga akibat latar belakang ilmu, pengetahuan dan lingkungan menjadikan mereka memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai suatu permasalahan dalam pekerjaan. Bersikaplah bijak dan tetap menghargai setiap pendapat yang masuk dalam perusahaan Anda.

Leave a Reply